editor sosialitas
zoomtemplate.com
zoomtemplate.com
zoomtemplate.com

Kuliner Banyumas

MAKANAN khas memiliki sejarah panjang masing-masing. Demikian juga dengan nopia dan getuk goreng, dua camilan dari Banyumas, Jawa Tengah Gateng).

Nopia misalnya, menyebar dari Kecamatan Banyumas dan diproduksi sejak 1880. Sementara getuk goreng, asli buatan warga Kecamatan Sokaraja yang diperkenalkan ke lidah publik sejak 1918. Meskipun tergolong uzur, kedua makanan khas ini mampu bertahan dari gempuran zaman.

Pada bagian belakang sebuah rumah di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Media Indonesia melihat sendiri bagaimana nopia diproduksi. Di ruangan berukuran 3x5 meter terdapat gentong-gentong berbahan tanah, dipanggang di atas api yang dihidupkan dengan kayu bakar.

Gentong itu berfungsi sebagai semacam oven. Para pekerja menempelkan bahan nopia mentah ke dalam dinding gentong tersebut. Lalu, setelah 10-15 menit, adonan terigu dengan isi gula merah itu matang.

Begitulah, pembuatan nopia memang terlihat sederhana. Tetapi, kalau masalah kualitas,jangan ditanya. Sebab, ruang produksi di Kampung Nopia Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, tersebut memiliki kekhasan rasa tersendiri. Berbeda jika dibandingkan dengan produk nopia dari luar Banyumas.

Kulit putihnya renyah sehingga gampang dikunyah. Sementara gula cokelat di dalamnya terasa legit.

Pengaruh China

Pemerhati sejarah Banyumas Sobitananda menuturkan, nopia sesungguhnya camilan asal China. Pertama kali dibuat Ting Ping Siang. Itu sebabnya, pengembangan di Banyumas juga kebanyakan dilakoni warga etnik Tionghoa.

Sampai sekarang, keluarga Ting Ping Siang masih tetap mempertahankan nopia yang diproduksinya. Saat ini yang mengembangkan adalah Ting KiokHiangatau Maria Kristia-na Adrianto, 63, yang merupa-kan generasi ketiga dari Ting Ping Siang.

"Produksinya sebagian kecil di Banyumas, tetapi yang lebih utama dipusatkan di Purbalingga dengan merek Nopia Asli," jelasnya.

Adapun menurut budayawan pemerhati Kota Tua Banyumas, Kuntarto, 54, nopia tidak dapat dilepaskan dari kesejarahan kota lama Banyumas. Katanya, produksi nopia identik dengan geliat ekonomi masyarakat pada saat itu. Memang, nopia dikembangkan warga etnik Tionghoa, tetapi usaha itu menghidupi warga pribumi sekitar.

Meski telah berusia 130 tahun, bisnis nopia malah semakin mekar saja. Apalagi setelah Narwan, 65, yang dulunya merupakan pekerja keluarga Ting, membuat usahanya sendiri sejak 1987. Kini usaha yang memproduksi Nopia Narwan tersebut diwariskan kepada anaknya, Timotius Rusmanto, 36. Dengan manajemen modern yang dikembangkan, kini Nopia Narwan merambah berbagai kota di Jateng dan wilayah luar pulau.

Rusmanto mengatakan, pada awal menggeluti usaha sendiri, ayahnya hanya berjualan di sekitar Banyumas. Kemudian ia membantu ayahnya mengembangkan pasar dengan berkeliling ke kota-kota di Jateng seperti Wonosobo,

Temanggung, Magelang, Solo, sampai Yogyakarta.

Dari situlah, pemasaran mulai berkembang. Kini Nopia Narwan melayani pesanan sampai ke Sumatra, Kalimantan, dan Bali. "Saya sudah dapat pesanan dari Batam, tetapi saya harus membenahi packing-nya dulu. Kalau packing-nya bagus, barangkali nantinya bisa masuk ke Singapura," ujar Rusmanto yang mengembangkan usaha di Desa Pekunden.

Setiap bulan, omzet Rusmanto menembus angka Rpl20 juta. Balikan, kalau menjelang Lebaran seperti ini, ia tidak lagi menjual ke luar daerah, karena permintaan nopia di dalam kota khususnya di Banyumas dan Purwokerto melonjak tajam mencapai 200%.

"Kami juga tidak mengambil untung berlebih saat permintaan tinggi. Harga tetap saya pertahankan. Untuk nopia mini atau biasa disebut mino, harganya bertahan Rp7.000per bungkus, sedangkan nopia besar harganya Rpl2 ribu per bungkus," kata dia.

Tidak cuma Rusmanto yang beroleh laba menjelang Lebaran seperti sekarang. Pelaku bisnis nopia lain di Desa Pekun-den yang berjumlah sekitar 40 usaha juga bernasib baik sebab produksi mereka juga laku keras sebagai oleh-oleh khas Banyumas.

Getuk goreng

Jika awal mula nopia dikembangkan warga etnik Tionghoa, tidak demikian dengan getuk goreng. Sanpirngad-lah yang memulai usaha getuk goreng sejak 1918 di daerah Sokaraja, sehingga sampai sekarang getuk goreng itu disebut getuk goreng Sokaraja.

Kini usaha Sanpirngad dengan merek dagang Getuk Goreng Sokaraja Asli H Tohirin dikembangkan anaknya, H Tohirin, beserta cucu-cucunya. Makanya, jangan heran kalau melintas di Sokaraja, penjual getuk goreng Sokaraja yang paling dominan adalah milik keluarga Sanpirngad.

Menurut anak tertua H Tohirin atau cucu Sanpirngad, Ning Waryati, 55, sebagai penerus usaha sampai sekarang ia bertahan dengan usaha getuk goreng. Rumahnya ia bagi dua. Bagian depan sebagai tempat penjualan dan belakang untuk pembuatan getuk.

Dikisahkan Ning, berdasarkan cerita keluarga, kakeknya dulu memiliki warung makan yang juga menyediakan camilan getuk basah dari singkong. Namun, lantaran getuk basah susah laku, kakeknya menggoreng kembali makanan itu dengan tambahan gula merah.

Kebetulan waktu itu ada Camat Kebasen yang mencicipi getuk goreng tersebut. Rasanya memikat, sehingga pak camat memesan untuk hidangan dalam pertemuan. "Sejak saat itulah, kakek saya terus memproduksi getuk goreng," ujar Ning.

Lama-kelamaan, banyak orang menyukainya. Terlebih, setelah 1974, pemasaran getuk goreng meluas gara-gara tembang ciptaan Karto Mintradjo asal Sokaraja. Tembang bertajuk Getuk Goreng itu kemudian dinyanyikan Waljinah dan disukai masyarakat.

Mujur bagi keluarga Sanpirngad, usahanya semakin moncer berkat lagu tersebut. Banyak orang yang kemudian mampir khusus untuk membeli getuk goreng

Menurut Ning, getuk goreng resep warisan keluarganya masih tetap digemari lantaran rasa dan kualitasnya benar-benar dijaga. Apalagi, menjelang dan pasca-Lebaran, biasanya omzet getuk goreng melonjak. Pada hari normal, dia mengaku hanya memproduksi getuk goreng sebanyak 50 kilogram atau setengah kuintal per bulan. Tetapi pada waktu-waktu Lebaran, produksi bisa melonjak hingga 2-3 kuintal dalam sebulan.

"Namun, harga tidak saya naikkan. Bertahan dengan Rpl9 ribu setiap kg. Untuk ukuran besek (anyaman bambu tempat getuk goreng), harganya hanya Rp7.000, sedangkan besek besar berisi 5 kg harganya Rp95 ribu," jelasnya.

Sama halnya dengan nopia. Usaha getuk goreng tidak lagi dikuasai satu keluarga-keturunan Sanpirngad saja-tetapi juga merambah ke warga lainnya, khususnya di Desa Sokaraja Tengah dan Sokaraja Lor.


di terbitkan oleh sosiologi fisip unsoed 1997 pada 12:46 AM. kategori . Ikuti melalui RSS 2.0

0 komentar for Kuliner Banyumas

Komentar Anda

Tulisan Terbaru

Komments Terbaru

Photo Gallery

zoomtemplate.com